Selasa, 08 Juli 2008

Father Sergius*

Leo Tolstoy

Kisah ini diawali dengan cerita kesuksesan Prince Stepan Kasatsky dalam karier militer dan kehidupannya sebagai socialite. Kasatsky, digambarkan sebagai seorang yang brilliant, dapat dipercaya, tak suka berfoya-foya maupun kecanduan minuman keras. Lebih dari itu, dalam segala hal dia selalu berusaha keras agar berhasil dengan sempurna dan tentu saja dia selalu mendapatkan pujian dan decak kekaguman. Keinginan kuat yang memenuhi hidupnya adalah selalu ingin membuat dirinya berbeda dari yang lain, menjadi yang terbaik.

Satu malam menjelang hari pernikahannya, Katsatsky mendengarkan pengakuan mengejutkan dari tunangannya. Sang tunangan, Countest Korotkova, ternyata adalah bekas gundik Tsar Nicholas I, raja yang di abdinya dengan sepenuh hati dan dicintainya. Hal ini tentu saja tak dapat diterima oleh Kasatsky, seorang pria yang menghargai kemurnian dan kesucian pernikahan. Dengan perasaaan marah dan kecewa, Katastsky mengundurkan diri dari karier militernya dan menjadi seorang biarawan.

Sebagai seorang biarawan, Father Sergius – Katsatsky, tetap memiliki passion yang kuat untuk membuat dirinya berbeda dari biarawan yang lain. Dikejarnya kesucian, dicarinya Tuhan dengan sepenuh hatinya. Dia hidup menyendiri dalam sebuah sel terpencil, menjadi pertapa yang hidupnya hanya untuk berdoa dan berpuasa. Ingin dicapainya kesempurnaan hidup, hingga akhirnya setelah bertahun-tahun hidup sebagai pertapa, Father Sergius terkenal karena memiliki kemampuan untuk mendatangkan miracle.

Sang pertapapun mulai dikunjungi banyak orang yang mencari kesembuhan dan keajaiban. Namun demikian tidak semua orang mencari keajaiban itu. Di suatu malam, datanglah wanita yang menggoda imannya, dan Father Sergius tak mampu menahan godaan itu. Sekali lagi dia marah, dipotongnya jarinya dengan kapak, dan dicukurnya rambutnya yang panjang. Sekali lagi pula dia meninggalkan kehidupan “mapan“ nya. Diambilnya pakaian petani dan pergilah dia berkelana menyusuri ladang, bukit dan sungai. Dalam keputusasaannya, Sergius ingin mengakhiri hidupnya. Kegalauan hatinya tergambar dalam suasana yang dituliskan Tolstoy dalam potongan kalimat ....

It was early morning, half an hour before sunrise. All was damp
and gloomy and a cold early wind was blowing from the west. ’Yes,
I must end it all. There is no God. But how am I to end it? Throw
myself into the river?
I can swim and should not drown. Hang myself ?
Yes, just throw this sash over a branch.’ This seemed so feasible and so easy that he felt horrified. As usual at moments of
despair he felt the need of prayer. But there was no one to pray to.There was no God.

Kelelahan yang luar biasa akhirnya membuatnya tertidur, ketika dia sadar dijumpainya seorang anak yang membawa Sergius menemukan sebuah rumah. Di situlah dia bertemu Pashenka. Di situlah pula Sergius menemukan sejatinya, ketika dia bergaul dan melihat kehidupan Pashenka ...dan dengan kerendahan hati diakuinya bahwa dirinya selama ini hanyalah seorang pendosa....

’Only not Sergius, or Father Sergius, but a great sinner, Stepan Kasatsky–a great and lost
sinner. Take me in and help me!’

Sergius akhirnya menyadari bahwa Tuhan yang dicarinya dengan sepenuh hati dengan menjadi pertapa, mulai menampakkan DiriNya ketika Sergius merendahkan diri. Tak ditunggunya lagi pujian dan ucapan terima kasih ketika dia dapat menolong orang lain baik melalui nasihat ataupun melalui kemampuannya dalam membaca dan menulis, atau keberhasilannya mendamaikan orang lain yang bertengkar.

Kasatsky, seorang yang marah dan putus asa, melampiaskan kemarahan dengan menjadi biarawan. Dikejarnya kesempurnaan, dikejarnya kesucian, dijadikannya dirinya seorang pertapa. Ditutupnya dunia luar rapat-rapat. Yang didapat hanyalah kejatuhan dalam pencobaan, walaupun dia berusaha menghapus rasa berdosa dengan memotong jarinya dengan kapak, mencukur rambut dan menghilang dari pertapaan... menjadi gelandangan, semua itu tak mampu menghilangkan kegalauan hati....tak dijumpainya Tuhan yang selama ini dicari dengan sepenuh hati.

Tuhan ditemukan, bukan karena dia sempurna, bukan karena dia suci, bukan karena dia menutup diri dari dunia luar, tetapi ketika dia merendahkan diri dan membuat dirinya berguna untuk orang lain tanpa mengharapkan pujian ataupun penghargaan.


* A Short Story, dapat di download di www.gutenberg.org
Catatan:
Aku membaca kisah ini ketika aku bosan mendengarkan rapat yang bahasanya tak kumengerti seutuhnya. Walaupun diadakan disebuah rumah cantik di daerah perkebunan anggur, tetaplah rapat itu menyiksaku.

Sabtu, 05 Juli 2008

Gunung Kelima

Paulo Coelho (The fifth mountain)
Buku ini diawali dengan catatan penulis yang memberikan latarbelakang perenungannya ketika menuliskan buku ini. Suatu petikan pengalaman yang mungkin pula kita alami, tertuang dalam pertanyaan Coelho ini :
" Setiap kali saya menganggap diri saya berhasil menguasai suatu situasi sepenuhnya, ada saja yang terjadi dan membuat saya terpuruk. Maka sayapun bertanya-tanya sendiri: Mengapa ? Mungkinkah saya ditakdirkan untuk selalu nyaris mencapai garis finis, tanpa pernah benar-benar melewatinya ?"

Gunung Kelima mengisahkan riwayat Elia ketika melarikan diri dari kejaran Izebel berdasarkan perenungan Coelho. Anda jangan bertanya ketika membacanya, kenapa saya tidak mendapatkan cerita ini di Sekolah minggu dulu ? Karena apa yang anda dapatkan di sekolah minggu dulu hanya menjadi latar belakang saja dari tulisan Coelho ini. Coelho akan menuntut kita untuk menemukan jawab dari pertanyaannya di atas. Melalui permasalahan yang dihadapi Elia dalam kehidupannya ketika menumpang di rumah Janda dari Sarfat. Coelho menuangkan inti dari perenungannya dalam percakapan antara Elia dengan Malaikat, ketika Elia sedang kebingungan berikut ini:

" Kenapa Dia yang menciptakan dunia memilih menggunakan tragedi untuk menuliskan buku takdir-Nya ? Seruan Elia bergema diseluruh lembah dan kembali lagi kepadanya. Engkau tidak tahu yang kau ucapkan. Sahut malaikat itu. Tidak ada tragedi, yang ada hanyalah yang tak terhindarkan: engkau tinggal memilah-milah mana yang sementara dan mana yang abadi.
" Manakah yang sementara ?" Tanya Elia
"Yang tak terhindarkan"
"Dan manakah yang abadi ?"
"Pelajaran-pelajaran yang dipetik dari yang tak terhindarkan itu"

Berapa sering garis finis yang nyaris anda capai, namun anda tak pernah benar-benar melewatinya ? Rasa sakit yang ditinggalkannya mengendap jauh dilubuk hati. Namun demikian satu-satunya solusi adalah melupakan masa lalu yang penuh keragu-raguan itu dan menciptakan sejarah baru untuk diri kita sendiri dengan tetap mengingat pada yang abadi itu. Dengan demikian kita akan kembali ke jalur legenda pribadi kita.

Lupakanlah yang sementara dan ingatlah yang abadi...

Surat dari Ibu

Asrul Sani


Pergi ke dunia luas anakku sayang

Pergi ke hidup bebas

Selama angin masih angin guritan

Dan matahari pagi menyinar daun-daunan

Dalam rimba dan padang hijau


Pergi kelaut lepas anakku sayang

Pergi ke alam bebas

Selama hari belum petang

Dan warna senja belum kemerah-merahan

Menutup pintu waktu lampau


Jika bayang telah pudar

Dan elang laut pulang ke sarang

Angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri

Dan nahkoda sudah tahu pedoman

Boleh engkau datang padaku


Kembali pulang anakku sayang

Kembali ke balik malam

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Kita akan bercerita

Tentang cinta dan hidupmu pagi hari

Veronika Memutuskan Mati

Paulo Coelho

(Veronica decides to die)

Terkadang hidup itu terasa begitu berharga ketika kita tahu bahwa kita akan segera kehilangan hidup kita.….

Coelho, mengangkat kisah tentang kehidupan di rumah sakit jiwa...Apakah gila itu ? Gila itu hanyalah bila kita tidak mengikuti aturan yang berlaku secara umum dalam masyarakat. Sebuah analogi menarik ditulis dalam buku ini dalam dongeng berikut:

Adalah sebuah negeri yang aman makmur dan sejahtera. Seorang penyihir jahat ingin mengacaukan negeri itu. Maka sang penyihir memberikan ramuan ke dalam sebuah sumur desa di negeri itu, sehingga siapapun yang meminum air sumur itu ia akan menjadi gila. Karena sumur itu adalah satu-satunya sumur di negeri itu, maka seluruh penduduk negeri itupun meminum airnya dan menjadi gila. Setelah itu mereka merasa raja yang memerintah mereka adalah orang aneh. Mereka mulai memprotesnya dan memaksa raja itu untuk turun tahta. Alangkah sedihnya hati sang raja, karena dia sudah tidak dapat mengendalikan lagi rakyatnya. Untuk itu dia bermaksud untuk mengundurkan diri. Sang ratu yang bijaksana datang menghampiri raja. Tuanku katanya, jika kita meminum air dari sumur yang sama seperti rakyat kita, maka kitapun tidak akan berbeda dengan mereka. Maka minumlah raja dan ratu negeri itu air dari sumur tadi dan setelah itu tidak ada yang aneh di negeri itu dan rakyat dapat menerima kembali rajanya. Gagalah usaha penyihir tadi untuk mengacaukan seluruh negeri.

Apakah anda merasa waras ? Ah belum tentu bukan ? …
Di rumah sakit jiwa …penghuninya adalah orang waras dan anda adalah orang gila :)

The Kite Runner

Khaleed Hoseinee


Buku ini mengambil setting di Afganistan, negeri asal si pengarang dan mengisahkan tentang persahabatan, pengkhianatan dan pengharapan. Adalah 2 bocah yang dibesarkan bersama dalam sebuah rumah, Amir Agha dan Hassan. Keduanya ditinggalkan oleh ibunya dan menyusu pada wanita yang sama ketika bayi. Amir anak sang majikan, ibunya meninggal ketika melahirkannya dan Hassan anak sang pelayan, ibunya lari meninggalkan ayahnya dengan pria lain.

Amir yang mewarisi sifat-sifat ibunya, suka akan sastra dan berperangai lembut, sedangkan ayahnya yang sangat sportif menginginkan anak seperti dirinya. Ketidakdekatan ayah dan anak ini sering menimbulkan rasa bersalah dalam diri Amir bahwa dia adalah pembunuh ibu yang sangat dicintai ayahnya.

Adalah sebuah layang-layang yang menjadi benang merah dalam cerita ini. Kompetisi layang-layang yang selalu diadakan di setiap musim dingin merupakan tradisi di Afganistan. Setiap anak akan menerbangkan layang-layangnya di udara pada kompetisi itu, dan layang-layang terakhir yang berada di udara adalah si pemenang. Selain itu, anak yang berhasil menangkap layang –layang terakhir yang terjatuh adalah si Juara pada kompetisi ini. Amir memandang, layang –layang inilah yang akan mampu mendekatkan dirinya dengan baba (ayahnya). Layang –layangnya harus menjadi pemenang dan dia menjadi juara. Hassan si setia kawan, adalah seorang pengejar layang—layang yang handal dia akan melakukan apapun untuk Amir majikannya. Namun Amir mengkhianati Hassan ketika Hassan sedang berjuang mendapatkan layang –layang terakhir itu untuknya. Rasa bersalah ini terbawa hingga Amir dewasa nanti.

Dari cerita layang-layang inilah kisah ini dibangun dengan sangat cantik, menggambarkan persahabatan, pengkhiatan dan penebusan. Dengan latar belakang Afganistan, negeri indah yang menjadi carut marut tak karuan akibat peperangan, kisah ini mengalir membawa pembacanya terhanyut dalam ruang dan waktu.

The Kite runner adalah sebuah buku yang setelah anda usai membacanya, kisahnya masih mengendap di dalam hati sanubari….