Minggu, 01 Agustus 2010

Terperangkap dalam Jiwa anak-anak

Entah kenapa dalam tahun ini sudah dua kali aku terjebak dalam dua pertengkaran, yang aku anggap lucu. Kedua pertengkaran ini membuatku ingin menuliskannya dalam blog ini.

Pertengkaran I
Dalam pertengkaran I ini, karena sesuatu hal aku harus berhadapan dengan bapak dari orang yang seharusnya berkonfrontasi langsung denganku. Sebenarnya aku sudah berdamai dengan si anak, tetapi si bapak tak terima dan tetap ingin melanjutkan pertengkaran yang seharusnya terjadi antara aku dan si anak. Jika aku dan si anak berumur 5 tahun, hal ini bukan hal aneh bukan? Tetapi kami berdua anak tua, sudah berumur di atas 30 tahun :).

Hal yang menarik bagiku bukan masalah anak umur 30 tahun bertengkar yang maju bapaknya. Tetapi sikap si bapak yang menghadapiku karena dia adalah seorang anggota MARITIM(pensiunan) yang kuduga dia merasa perlu ditakuti dan disegani karena dia adalah mantan anggota maritim.

Pertengkaran II
Hal ini terpicu karena hal yang sangat sepele sekali. Rumah di sebelahku adalah rumah kosong. Sudah berkali-kali jika mereka bersih-bersih rumah, semua sampahnya dibuang ke tempat sampah rumahku. Aku si pemilik tempat sampah itu. Aturan di perumahan kami, semua sampah akan diangkut kecuali sampah kebun. Si empunya rumah itu selalu membuat sampah kebunnya, dan akibatnya sampah itu akan teronggrok di tempatku beserta sampah-2 yang lain berhari-2, karena tukang sampah tak mau mengambilnya.

Hari itu, setelah kesekain kalinya, datanglah aku ke rumah itu ketika dibersihkan dan tong sampahku telah dipenuhi oleh sampah mereka. Beginilah kalimat yang kuucapkan dengan nada biasa...datar, tidak membentak, tidak ada aksen apapun... Pak, jika membuang sampah jangan di tempat saya... kalimat itu belum selesai... si empunya rumah marah besar.... mengatai-2 aku kasar tidak tahu aturan dan lain... seorang kawannya lagi datang, dan bahkan ingin menamparku. Sangat arogan...

Hal yang menarik buatku adalah kalimat yang ia ucapkan "Saya ini adalah ORANG PEMERINTAHAN, jika ngomong dengan saya yang sopan...saya bisa mendatangkan orang 2 truk untuk ke sini..."

Dua hal di atas, MARITIM dan ORANG PEMERINTAHAN, membawaku kepada sebuah kesimpulan....dua orang ini adalah dua orang yang terperangkap dalam jiwa anak-anak. Jiwa yang mencari perlindungan dari baju yang dipakainya, dari pangkat dan kedudukkannya. Bukankah jika seorang sudah berada di rumah dia adalah seorang "bapak", seorang "tetangga" dan bukan seorang BOS di perusahaannnya. Kenapa dia tidak berani berdiri sebagai dirinya sendiri? Kenapa harus berlindung dengan jabatan, masa lalu dan kepangkatan yang sudah usang?

Dalam hatiku, tentu aku sedih. Aku bukan sedih karena aku didamprat untuk suatu kesalahan yang tak aku lakukan. Aku sedih, karena aku melihat sebuah paradox menyakitkan dari negeri ini. Orang yang mengaku dirinya adalah orang pemerintahan, bagaimana dia bisa mendapatkan gaji jika kami tidak membayar pajak. Setiap bulan gaji kami dipotong, rupiah demi rupiah...agar dia bisa menjadi orang pemerintahan, menikmati semua fasilitas negara. Seharusnya kami adalah BOS dan dia adalah PELAYAN kami karena mereka menikmati keringat kami.

Dua orang tua terperangkap dalam jiwa anak-anak, tak menyadari bahwa pangkat dan jabatan adalah pakaian. Suatu hari pakaian itu akan usang, dibuang dan digantikan dengan pakaian yang baru. Ketika itu terjadi engkau akan telanjang dan tak memiliki jati dirimu sendiri. The inner of you...berdiri dengan dirimu sendiri....ketika itu terjadi, aku yakin kau akan merasakan rasa sakit karena engkau lupa untuk menyulam pakaianmu sendiri, menyulam dirimu sendiri.

Di hari itu aku sakit hati, namun di hari itu juga aku menemukan sesuatu bahwa aku berdiri dengan pakaianku sendiri. Aku bangga, walaupun pakaian yang aku gunakan masih compang-camping, suatu hari nanti aku akan berpakaian dengan kearifan, dan engkau akan perpakaian kenelangsaan...

Selasa, 09 Maret 2010

Kodok, Anjing dan Monyet

Kodok (Paulo Coelho: The Winner Stands Alone)

Berbagai studi biologi menunjukkan bahwa jika seekor kodok ditaruh dalam panci berisi air dari kolam temap tingalnya, kodok itu akan tetap dalam panci, tanpa bergerak, sementara airnya pelan-pelan dipanaskan. Kodok itu tidak bereaksi terhadap meningkatnya suhu dalam panci serta perubahan di sekelilingnya. Lalu saat airnya mendidih, kodok itu pun mati, dalam keadaan gendut dan bahagia.

Tapi seandainya kodok tersebut dimasukkan ke dalam sepanci air yang sudah mendidih, kodok itu akan langsung melompat keluar dengan kulit terkelupas, tapi tetap hidup!

Aku seperti kodok yang direbus tadi. Aku tidak menyadari perubahannya. Kukira semua baik-baik saja, keadaan buruk pasti berlalu, tinggal menunggu waktu. Aku siap mati karena telah kehilangan hal terpenting dalam hidupku, tapi bukannya bereaksi, aku malah duduk berendam dengan apatis dalam air yang lama-lama makin panas.

Beberapa kodok yang direbus beranggapan bahwa yang terpenting adalah sikap patuh, bukan kemampuan: siapa pun yang mampu, pasti jadi pemimpin, sementara yang memiliki akal sehat akan patuh. Jadi apa arti semua ini? Lebih baik berhasil melewati sebuah situasi yang sulit sedikit terkelupas, tapi masih hidup dan siap beraksi.


Anjing dan Monyet (Malcom Gladwell: What the dog saw)

Segala yang kita tahu tentang anjing memberi kesan bahwa, khas pada anjing di antara semua hewan lain, anjing adalah pemerhati gerak-gerik manusia.

Ahli antropologi Brian Hare telah melakukan percobaan-percobaan dengan anjing, misalnya menaruh sepotong makanan di bawah satu dari dua cangkir yang diletakkan terpisah sejauh beberapa puluh sentimeter. Anjing tahu bahwa ada makanan yang bisa didapat, tapi tidak tahu cangkir mana yang menutupinya. Lalu Hare menunjuk cangkir yang benar, mengetuk cangkir itu, memandang cangkir itu. Apa yang terjadi? Si anjing selalu memilih cangkir yang benar. Tapi ketika Hare melakukan percobaan yang sama dengan simpanse -hewan yang 98,6 persen gennya sama dengan kita - simpanse tak bisa memilih yang benar. Anjing akan memandangi Anda untuk minta bantuan, sementara simpanse tidak.

Primata sangat jago dalam memanfaatkan petunjuk dari spesies yang sama, Hare menjelaskan. Tapi mereka tidak mahir menangkap petunjuk dari manusia kalau diajak kerjasama. Mereka tidak mengerti. Tapi keistimewaan anjing adalah karena anjing memperhatikan manusia ketika manusia melakukan sesuatu yang sangat manusiawi seperti berbagi informasi tentang sesuatu yang diinginkan pihak lain. Anjing lebih pintar daripada simpanse, anjing punya sikap yang berbeda terhadap manusia. Anjing benar-benar tertarik pada manusia. Tertarik sampai ke tingkat terobsesi. Bagi anjing, anda seperti bola tenis raksasa yang bisa berjalan.

Minggu, 11 Januari 2009

Asimetri

Si Pembaca Buku

Setiap penggemar Agatha Christie, tentu tidak asing dengan sosok yang satu ini, detektif Belgia yang memiliki bentuk wajah bulat telur... Ya benar, dia adalah Hercule Poirot. Hercule Poirot si pecinta kesimetrisan. Segala sesuatu yang tidak simetris akan menimbulkan kecurigaan dan rasa tak nyaman dalam benaknya, bahkan bentuk kumisnya pun harus simetris.

Ketika saya lebih muda dulu, sayapun pecinta kesimetrisan. Jika saya melakukan A, maka sayapun mengharapkan saya akan mendapatkan A. Jika saya berbuat baik, maka saya pun berharap saya akan menerima kebaikan yang sama. Namun demikian dunia ini tidak pernah simetris. Semakin saya bertambah umur, semakin banyak kejadian asimetris yang saya alami. Keasimetrisan ini, bukan saja timbul dari orang lain, tetapi saya juga menyebab keasimetrisan ini.

Saya pikir-pikir.... dunia menjadi lebih indah, penuh warna dan penuh tantangan jika dia asimetri...Bukankah sesuatu yang asimetris dan tidak bisa diprediksi lebih menantang untuk dijalani dan dipelajari ?

Rabu, 31 Desember 2008

Three Bags Full - A Sheep Detective Story

Leonie Swann

Pada suatu pagi yang cerah, sekumpulan domba menemukan gembala mereka, George, tergeletak tak bernyawa. Tubuhnya ditikam dengan sekop di padang gembalaanya. Kawanan domba ini, bukanlah kawanan domba biasa. Mereka adalah kawanan domba yang cerdik, setiap malam semasa hidupnya George selalu membacakan buku-buku untuk mereka. Aneka kisah dari buku telah mereka dengarkan, dari roman, detektif hingga obat-obatan. Karena itu tak mengherankan jika mereka mempertanyakan bagaimana mungkin George yang kemarin mereka temui sehat saat ini membujur kaku tak bernafas ? Siapa yang membunuhnya ? Mengapa dia dibunuh ?

Miss Maple, domba tercerdik di antara kawanan itu, atau bahkan di dunia ini, memimpin kawan-kawannya untuk melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan gembala mereka. Ini adalah plot dari buku "Three Bags Full". Namun, melalui sudut pandang para domba ini, Leonie Swann, yang berlatar belakang pendidikan philosophy, psikologi dan sastra Inggris , menebarkan pertanyaan-pertanyaan philosophical secara jenaka dan ringan.

Salah satu petikan percakapan yang menggelitik terjadi ketika Kate, istri George, dan Pak Pendeta (a black-clad man with a stiff collar round his neck and a strikingly long nose) datang mengunjungi padang gembalaan itu keesokan harinya. Kate mengaku pada Pak Pendeta, bahwa George memang orang yang sulit dimengerti. Pak Pendeta menimpali, ya memang George bukanlah orang yang mudah bergaul, dia adalah jiwa yang terhilang, anak domba yang tersesat (he was a lost soul, a lamb go astray), tetapi Tuhan (the Lord) yang maha pengampun telah memanggilnya pulang ke rumahNya. Lalu, Pak Pendeta mengatakan, domba-domba ini akan diberikan kepada siapa ? Kepada Ham si penjual daging ? Kate tak setuju, domba-domba ini tak membutuhkan siapa-siapa, katanya. Pak Pendeta mengatakan domba membutuhkan gembala. Tapi Ham bukanlah gembala yang baik, dia tak akan merawat (care) domba-domba ini, kata Kate. Ada banyak cara untuk menaruh perhatian (caring) pada seseorang dengan kasih (love) atau dengan kekerasan (rigor), dengan kata-kata (word) atau dengan pedang (sword), begitulah sabda Tuhan (Lord), kata Pak Pendeta. Namun Kate tetap tak menghendaki domba-domba ini diberikan pada Ham. Mendengar hal ini, domba-domba yang semula ketakutan mendengar kalimat "diberikan kepada penjual daging (the butcher)" disebut, menjadi tenang kembali. Ketika mereka hendak pulang, Pak Pendeta memberikan penghiburan pada Kate, tabahlah nak katanya, dan dia mengambil 1 ayat dari Mazmur 23: Tuhan adalah Gembalaku, tak akan kekurangan aku (The Lord is my shepherd, I shall not want...), dan pulanglah mereka berdua....

Setelah itu, para domba yang mendengar seluruh percakapan tadi menjadi bingung, siapakah Tuhan ini (who is the Lord ?). Othello, salah satu dari mereka mengatakan "aku tak mau the lord dari orang itu menjadi gembalaku" (I wouldn't want that lord of his to be my shepherd). Ya, timpal yang lain. Lagian, George bukanlah anak domba (George was not a lamb), kata Heather, siapa sih pria itu ? Kelihatannya dia tak suka dengan George, aku tak suka dengan pria itu dan juga dengan "pria" yang lain, "the lord" yang sering disebut-sebut tadi. Jangan-jangan "the lord" ini yang membunuh George, dia membawa George ke rumahnya, pertama-tama mereka bertengkar dengan kata-kata (words) lalu menggunakan pedang (sword), hanya karena pedang tak ada ditangan maka yang digunakan adalah sekop. Siapa the lord ini ? Seekor domba mengatakan, oh, dia adalah anak domba (He is a lamb), tapi yang lain langsung protes, bukan dia adalah seorang gembala (He is a shepherd). Lalu siapakah pria itu tadi ? Mopple, domba yang lain, mengatakan, aku ingat dia. Suatu hari ketika aku masih anak domba, aku dibawa George ke rumah orang itu dan ketika sampai di sana, dia mengatakan selamat datang di rumah Tuhan (welcome to the house of God). Jadi dia itu adalah "God", demikian kesimpulan Mopple dan para domba yang lain tentu menyetujuinya. Tak mudah memahami manusia kata mereka, apakah mereka punya jiwa ? Tentu saja tidak, kata para domba itu, mereka tak punya 4 kaki seperti kita......

Percakapan-percakapan ini terasa lucu dan janggal, suatu yang lazim jika dipandang oleh manusia terasa aneh jika seolah-olah domba yang memikirkan. Bukankah, sesuatu yang lazim buat kita juga tak lazim buat orang lain ? Seringkali kita beranggapan bahwa orang lain harus berpandangan sama seperti kita bukan ? dan jika dia berbeda dari kita, kita menganggap dia aneh.

Membaca buku ini juga membuat kita merenung, bagaimanakah hidup ini jika kita ditinggal oleh "Gembala" kita ? Merenung dari percakapan-percakapan yang diutarakan oleh para domba, merasakan ketakutan para domba terhadap musuh-musuh mereka.

Beberapa renungan menarik teringkas di sini. Salah satu renungan itu tersirat pada satu penggalan cerita ketika dalam misi penyelidikan kematian George, Othello pergi ke gereja (the house of God). Saat dia akan memasuki pintu gereja itu, Othello ragu untuk melangkah. Ada satu kalimat yang terngiang-ngiang di telinganya. Dalam hidup ini selalu ada dua jalan: jalan untuk masuk dan jalan untuk kembali (The way to go in and the way to go back) dan jalan untuk kembali selalu lebih penting (The way to go back is always more important). Yah, kemanapun kaki ini melangkah, bukankah jalan untuk pulang selalu lebih penting ?

Mengenai musuh, dalam sebuah pertemuan, mereka ditanya oleh Melmoth, domba yang telah lama menghilang. Siapa musuh terbesar mereka ? Tukang daging, Gabriel (si gembala baru), Si Pemburu, Srigala, embikan domba-domba itu bersamaan. Ada begitu banyak musuh akhir-akhir ini hingga susah menentukan mana yang terburuk dari antara mereka. Salah ! Teriak Melmoth, musuh terbesar adalah diri kalian sendiri. Gemuk dan malas, pengecut dan penakut, tak mau berpikir dan berpikiran sederhana (simple minded), itu semua adalah kalian ! Melmoth domba yang sering berkelana ini, memberi satu resep untuk mengatasi "musuh" dalam diri mereka sendiri, yaitu dengan cara belajar menaruh perhatian (pay attention), katanya "pay attention will help you to track down the two legs".

Bukankah hal ini sering pula terjadi pada kita, yang berkaki dua ini ? Bukankah diri kita sendiri adalah musuh terbesar kita? Persis seperti yang dikatakan Melmoth: gemuk, malas, pengecut, penakut, tak mau mikir dan simple minded ! Dan lebih-lebih lagi, bukankah kita sering meremehkan orang lain dan sekeliling kita, tak mau memberi perhatian, sibuk dengan diri sendiri ? Mungkin ini saatnya untuk berhenti sejenak di akhir tahun ini dan memulai tahun baru dengan belajar menaruh perhatian - pay attention. Pay attention will help you to tract down all of your enemies (read difficulties) ! That's what Melmoth said..

Turutilah...


Selamat Tahun Baru 2009
Berlin, 31 Desember 2008

Kamis, 13 November 2008

My Name is Red

Orhan Pamuk

Orhan Pamuk, pemenang Nobel Kesusastraan 2006, menuliskan novel kriminal ini dengan cara yang tidak lazim dituliskan para novelis yang lain. Lazimnya sebuah buku mengambil sudut pandang sebagai orang pertama, "aku", atau orang ketiga, "si pendongeng cerita". Buku ini memiliki sudut pandang yang berganti-ganti pada tiap babnya.

Buku yang diawali dengan judul "I am a corpse" - "Aku adalah mayat" menampilkan sebuah kisah ketika "seorang" mayat dapat menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan harapan agar pembunuhnya dapat ditemukan dengan janji "dia" akan menceritakan apa yang terjadi setelah kematian. Melalui judul ini pula, Pamuk memulai kisah thrillernya.

Selain menjadi "mayat", pembaca dibawa menjadi "anjing".. sesuatu yang aneh. Sang anjing berkata, karena kamu manusia adalah binatang buas yang kurang rasional bisa dibandingkan aku, kamu berkata pada dirimu sendiri "Anjing tidak berbicara". Anjing berbicara, tetapi hanya kepada siapapun yang tahu bagaimana cara mendengar. Dalam sudut pandang anjing ini, persoalan tentang haram dan najis dipertanyakan oleh si anjing. Siapa yang menajiskan
anjing ? Kenapa anjing selalu diusir dan dipukuli dengan sapu lidi agar keluar dari pekarangan rumah ataupun masjid ? Lebih mengherankan lagi, sang anjingpun mengamati perbedaan antara anjing yang berada di Istanbul, yang bebas berkeliaran dan anjing yang berada di Eropa, yang dikekang dengan rantai dan hanya bisa mengucapkan "hi" pada kawannya dari jarak jauh saja, cukup menggelitik. Melalui anjing kita akan diajak merenung apa arti kebebasan, kenapa mengharamkan ataupun menajiskan sesuatu, jika Tuhan sang pencipta tak pernah mengharamkannya.

Pamuk menempatkan pembaca bukan saja sebagai mayat, ataupun anjing, bahkan dia pun menempatkan pembaca sebagai pembunuh dalam kisah ini... sungguh cara bercerita yang luarbiasa tak lazim bukan ?

Membaca buku ini pertama kali, mungkin anda akan merasa sulit memahami maksud Pamuk dalam bercerita. Namun demikian setelah memahaminya, anda akan dibawa Pamuk melalui kaleidoskop berwarna-warni dan dalam, mempesona dan menakjubkan. Setiap lembar penuh dengan keindahan kalimat yang patut untuk direnungkan .

Menjadi Tua

Si Pembaca Buku

Menjadi tua membuatku semakin terikat dengan rumahku. Aku menjadi seperti kura-kura yang membawa rumahnya kemanapun dia pergi. Kadang akupun takut menyembulkan kepalaku melihat dunia luar yang penuh warna itu dan memilih mendekam dalam rumahku. Aku menemukan dermagaku, merapatkan kapalku dan enggan untuk pergi jauh lagi. Namun, seringkali aku membuat kesalahan, egoku yang terlalu tinggi, rasa sombong dan merasa bisa persis seperti anak-anak yang berumur 4 tahun terkadang membuatku menerima hukuman untuk meninggalkan kenyamananku itu... Ah... kesombongan, apapun bentuknya tetaplah kesombongan walaupun dia terbungkus dengan segala kerendahan hati tetapi tetaplah seperti kata temanku "kesombongan itu seperti orang yang merendahkan diri di atas menara"....

Menjadi tua, tidak membuatku menyesali kesalahan-kesalahan masa mudaku. Kesalahan-kesalahan itu tak bisa diperbaiki, dia hanya bisa dijadikan legenda bagi diri sendiri, begitu kata Coelho. Andaikan aku diberi pilihan untuk mengulang masa laluku, mungkin aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan, tetapi aku yakin aku pasti membuat kesalahan-kesalahan yang lain. Tentu aku tidak ingin menjadi seperti Sisyphus dalam mitology Yunani. Dia dihukum menggelindingkan batu yang besar ke puncak bukit yang terjal, namun sebelum batu itu sampai di puncak, sang dewa menggelindingkan batu itu ke bawah lagi dan Sisyphus harus mulai lagi menggelindingkan batu itu ke puncak. Seperti itulah aku pikir, jika aku diberi kesempatan untuk mengulang masa laluku. Aku menjadi muda lagi, membuat kesalahan lagi, lalu aku menjadi tua dan ingin memperbaiki kesalahan, aku berharap menjadi muda lagi dan seterusnya.... Lantas...., kapan hidupku akan berhenti jika hal seperti itu terjadi.

Aku mensukuri hidupku, apapun yang terjadi... aku berbuat kesalahan, aku berbuat kebaikan.
Aku mensukuri bahwa hidupku tidak ditimbang atas dasar kesalahan dan kebaikanku, tetapi atas dasar kemurahan Sang pemberi hidup yang menjanjikan keabadian setelah kematian.

Berlin, 9 November 2008

Senin, 13 Oktober 2008

Bank Kaum Miskin

Kisah Yunus Grameen Bank Memerangi Kemiskinan

Buku ini merupakan autobiography dari Mohammad Yunus, penggagas dan pendiri Grameen Bank (Grameen berarti pedesaan) serta pemenang Nobel perdamaian 2006. Kisah Yunus diawali dari masa kecil yang bahagia, walaupun keluarga ini mengalami prahara, yaitu ketika sang Ibu menjadi gila, namun keluarga ini tetap utuh. Yunus mendapatkan Fullbright untuk melanjutkan Ph.D di Colorado Boulder, USA. Dia pulang ke Bangladesh, ketika negeri ini mulai memisahkan diri dari Pakistan dan menjadi Dekan di Fakultas Ekonomi, Universitas Chittagong.

Hal pertama yang menarik perhatian Yunus ketika mondar-mandir dari rumahnya ke kampus adalah Desa Jobra yang selalu dilintasinya. Dia memperhatikan lahan-lahan tandus di sekitar desa yang ternyata disebabkan tiadanya irigasi. Ketiadaan irigasi ini disebabkan karena faktor managemen yang salah, sehingga pompa-pompa irigasi yang sudah dibeli dengan mahal tidak digunakan. Yunus menyelesaikan masalah ini dengan program yang disebutnya “Pertanian Tiga Pihak”. Yang dimaksud dengan tiga pihak di sini adalah Yunus, petani pemilik sawah, dan petani penggarap sawah. Yunus menyediakan bibit, mengajarkan sistem pertanian yang baik dan memperbaiki pompa, petani meminjamkan (pemilik) sawah dan menggarapnya (penggarap). Tak ada halangan yang berarti bagi Yunus, walaupun dia adalah seorang ekonom, dia mau belajar ilmu pertanian dan bahkan mempraktekannya langsung di sawah.Walaupun program ini berhasil, namun program ini menguak sebuah masalah yang tidak pernah Yunus perhatikan sebelumnya. Setelah padi dipanen, diperlukan tenaga buruh untuk mengirik gabah dari batangnya. Pekerjaan membosankan ini dikerjakan oleh kaum perempuan melarat yang jika tidak punya pekerjaan akan mengemis. Hidup yang mengerikan: hanya demi 40 sen (USD), mereka memanfaatkan bobot tubuh dan gerakan kaki tanpa alas yang melelahkan itu selama 10 jam sehari! Kaum perempuan itu banyak yang janda karena suaminya meninggal, cerai atau suaminya meninggalkannya pergi dengan anak-anak yang harus diberinya makan. Mereka bahkan terlalu miskin untuk menjadi buruh tani. Mereka tak punya tanah, tak punya aset dan tak punya harapan. Jelaslah bagi Yunus, programnya hanya menguntungkan petani kaya saja, namun si miskin tetaplah miskin.

Tahun 1976, Yunus mulai mengunjungi rumah tangga paling miskin di Jobra. Bersama seorang temannya, dia bertemu dengan Sufiya Begum, seorang wanita miskin, berumur 21 tahun. Sufiya adalah perajin bangku bambu. Dia berhutang $22 sen untuk membeli bambu dan setelah dijual dia hanya memperoleh keuntungan 2 sen. Hal ini dikarenakan dia harus menjual kembali bangku bambu kepada mereka yang memberinya pinjaman. Kenyataan ini mengejutkan Yunus. “Di ruang kuliah saya berteori mengenai jumlah miliaran dolar, tapi di sini, di hadapan mata saya, masalah hidup-mati ditentukan oleh sejumlah recehan. Ini tidak benar. Mengapa perkuliahan di kampus tidak mencerminkan kenyataan hidup yang dihadapi Sufiya?” Yunus marah melihat hal ini, “Saya marah, marah pada diri sendiri, marah pada Fakultas Ekonomi saya dan pada ribuan professor pintar yang tidak pernah mencoba membahas masalah ini dan mengatasinya.”

Dia menyuruh mahasiswinya untuk mencatat ada berapa banyak wanita seperti Sufiya di Jobra. Menurut catatat ada 42 orang, Yunus meminjamkan 27$ kepada 42 orang tersebut. Mereka bisa membayar utang-utangnya pada para pedagang dan menjual produknya dengan harga yang baik. Mereka tidak perlu membayar bunga dan boleh membayar kapan saja mereka mau. Tetapi, Yunus merasa bersalah karena menjadi bagian dari masyarakat yang tidak bisa menyediakan 27$ bagi 42 orang yang punya ketrampilan untuk mempertahankan hidupnya. Dia menyadari apa yang dia kerjakan tidak memadai dan merasa perlu menjawab masalah tadi secara institusional. Yang dibutuhkan adalah lembaga yang bisa memberi pinjaman pada mereka yang tidak punya apa-apa.

Inilah awal dari perjuangan Moh. Yunus, untuk mendirikan bank bagi kaum miskin dan buta huruf. Tidak ada bank yang mau memberikan mereka pinjaman, karena tidak ada jaminan yang mereka punya. Yunus berargumen, nyawa mereka adalah jaminan yang mereka punya. Bagi orang miskin, uang pinjaman itu penting untuk bertahan hidup. Mereka akan berusaha keras untuk mampu membayar pinjaman tersebut agar mendapatkan pinjaman kembali.

Bacalah buku ini, setelah itu anda akan memandang sekeliling anda dengan cakrawala yang berbeda !